Baca Al-Quran Online Lengkap Dengan Arti, Cara Membaca, Bacaan Arab, Gambar Dan Suara.

Kalkulator Zakat

"Laporan Donasi, Zakat, Infaq dan Shodaqoh" Terima Kasih kepada Sahabat-sahabat yang telah membantu saudara-saudara kita yang sedang membutuhkannya: Bpk. Siradj Situbondo Rp. 200.000,- Norhadi M. B. Wangi Rp. 150.000,- Ny. Hj Norhasanah Probolinggo Rp. 300.000,- Hamba Allah Indonesia Rp. 75.000,- Lindawati Surabaya Rp. 400.000,- M. Syafi’i Bali Rp. 200.000,- Semoga diterima oleh Allah amal kebaikannya. Amin ...ket. legkap lihat di samping bawah...

Al Qur'an adalah firman Allah yang di dalamnya terkandung banyak sekali sisi keajaiban yang membuktikan fakta ini. Salah satunya adalah fakta bahwa sejumlah kebenaran ilmiah yang hanya mampu kita ungkap dengan teknologi abad ke-20 ternyata telah dinyatakan Al Qur'an sekitar 1400 tahun lalu. Tetapi, Al Qur'an tentu saja bukanlah kitab ilmu pengetahuan. Namun, dalam sejumlah ayatnya terdapat banyak fakta ilmiah yang dinyatakan secara sangat akurat dan benar yang baru dapat ditemukan dengan teknologi abad ke-20. Fakta-fakta ini belum dapat diketahui di masa Al Qur'an diwahyukan, dan ini semakin membuktikan bahwa Al Qur'an adalah firman Allah.

Tampilkan postingan dengan label Kajian Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 17

Agar Selalu Waspada

dakwatuna.com – (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia senantiasa cemas dan khawatir akan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini merupakan salah satu dari 12 ayat yang berbicara tentang urgensi dan keutamaan sikap hati-hati, waspada, mawas diri –yang disebut Alquran dengan istilah “al-hadzar”. Sikap itu merupakan “akhlaqul quran” yang sepatutnya dimiliki oleh mereka yang mengaku berakal (ulul albab). Sikap itu juga merupakan impelementasi dari kesyukuran seorang hamba atas segala nikmat yang lahir maupun yang batin. “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)

Penjelasan tentang ayat ini bisa kita temukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. Anas menceritakan, suatu hari Rasulullah melayat seseorang yang akan meninggal dunia. Rasulullah bertanya kepada orang itu, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang?” Ia menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas.” Mendengar jawaban laki-laki itu, Rasulullah bersabda, “Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan.” (HR. At-Tirmidzi dan Nasa’i).

Berkenaan dengan penjelasan tentang ayat di atas juga, Abdullah bin Umar ra seperti dinukil oleh Ibnu Katsir dengan tegas menyatakan bahwa orang yang dimaksud oleh ayat di atas adalah Utsman bin Affan. Kesaksian Ibnu Umar tersebut terbukti dari pribadi Utsman bahwa ia termasuk sahabat yang paling banyak bacaan Alquran dan sholat malamnya. Sampai Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa Utsman terkadang mengkhatamkan bacaan Alquran dalam satu rakaat dari qiyamul lailnya. Sungguh satu tingkat kewaspadaan hamba Allah yang tertinggi bahwa ia senantiasa khawatir dan cemas akan murka dan ancaman azab Allah swt. dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepadaNya.

Begitulah semestinya, kewaspadaan dan kecemasan kita selalu tentang murka dan azab Allah swt, tidak tentang urusan duniawi. Allah swt. berfirman, “Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah.”(QS. Al-Ma’idah: 92). Berhati-hati yang disebutkan dalam ayat ini adalah bagian dari sikap hadzar. Sikap ini akan menuntut seseorang untuk lebih mentaati Allah dan RasulNya. Dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya akan memberi pengaruh yang besar kepada pelakunya untuk senantiasa bersikap hadzar dan menghindar dari segala bentuk penyelewengan dan penentangan terhadap ajaran Allah dan RasulNya.

Secara global, berdasarkan analisis terhadap ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang hadzar, terdapat dua hal yang dituntut dari kita untuk senantiasa berhati-hati, selalu waspada dan mawas diri. Pertama, waspada dan mawas diri dari segala bentuk kemaksiatan agar terhindar dari murka dan azab Allah. Kedua, waspada dan berhati-hati terhadap musuh, baik musuh yang nyata maupun musuh yang tidak nyata.

Terdapat lima ayat yang berbicara tentang bentuk hadzar yang pertama. Masing-masing dari kelima ayat itu memberi peringatan kepada setiap manusia agar senantiasa mawas diri dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar terhindar dari ancaman azab dan hukuman Allah swt. Allah mengingatkan, “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin sekiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu agar mawas diri terhadap siksa-Nya. Dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”(QS. Ali Imran: 30). Lebih tegas lagi Allah mengingatkan, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu berhati-hati dan waspada akan ditimpa cobaan (fitnah) atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63). Betapa masih banyak yang kita lakukan justru mengundang datangnya murka dan azab Allah swt. dengan beragam bentuk penyelewengan moral, penodaan akan kesucian agama, dan pelecehan akan ajaran-ajaranNya. Terkadang tidak sedikitpun dari peringatan Allah membuat kita bersikap lebih hadzar lagi dalam bertindak dan berprilaku.

Tuntutan hadzar yang kedua sangat relevan dengan kondisi dunia Islam saat ini yang menjadi rebutan para agresor. Sungguh, peringatan Allah agar kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap musuh-musuhNya, sangat layak untuk dicermati dan dijadikan landasan bagi setiap sikap dan tindakan kita. Bahkan, sejak awal Allah sudah memperingatkan RasulNya untuk dijadikan teladan. “Dan hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (Ahli Kitab). Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Ma’idah: 49).

Begitu juga terhadap orang-orang munafik. Dengan tegas Allah memperingatkan RasulNya agar waspada dan berhati-hati terhadap kepalsuan dan makar mereka. “Dan apabila kamu melihat mereka (orang-orang munafik), tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Terlebih lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan memusuhi Islam. Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar senantiasa waspada dan berhati-hati, tidak mudah diperdaya, dan tidak menerima tawaran mereka dalam bentuk apapun. “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.” (QS. An-Nisa’: 71)

Ibnu katsir mengomentari ayat itu. Bahwa, perintah Allah agar bersikap hadzar terhadap musuh-musuhNya, menuntut agar umat Islam juga mempersiapkan diri dengan kelengkapan persenjataan dan barisan tentara yang siap maju ke medan perang sedini mungkin. Bahkan, ternyata sikap hadzar terhadap musuh-musuh Allah juga dituntut saat dalam keadaan sholat sekalipun. Karena, khawatir keadaan ini dimanfaatkan oleh mereka untuk menyerang sementara umat Islam dalam keadaan tidak siap siaga. “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat, maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus”. (QS. An-Nisa’: 102).

Tentunya, masih segar dalam ingatan kita sederetan peristiwa yang relevan dengan ayat-ayat tentang hadzar yang menuntut kita agar lebih berhati-hati, waspada, dan mawas diri, baik terhadap segala bentuk kemaksiatan yang terjadi sekitar kita maupun terhadap musuh yang selalu mengintai. Betapa peringatan dan cobaan Allah justru datang saat kita lalai, saat kita terpesona dengan tarikan dunia, dan saat kita tidak menghiraukan ajaran-ajaranNya. Sebenarnya sudah cukup banyak peringatan Allah untuk kita waspadai agar cobaan Allah tidak terjadi kembali. Namun, memang hanya orang-orang yang selalu waspada seperti yang digambarkan dalam ayat di atas yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Saatnya kita lebih mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan dalam segala bentuknya agar terhindar dari fitnah dan azab Allah swt.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2006/agar-selalu-waspada/
READ MORE - Agar Selalu Waspada

Download Holy Quran 8.0

Download Holy Quran 8.0


image

Holy Quran 8.0 adalah program kitab suci Al Qur’an dalam berbagai fitur yang sangat berguna untuk berinteraksi dan mengkaji isi kitab suci Al Qur’an.
Sekilas tentang Holy Quran 8.0
  • Program berisi penayangan seluruh naskah Alquran dengan sistim penulisan Usmani sesuai dengan Mushaf terbitan Madinah dan Mushaf yang biasa beredar di Indonesia, lengkap dengan tanda baca dan indeks menurut surah dan juz.
  • Program menyediakan fasilitas bacaan murattal oleh Syekh Huzaifi dan Syekh Muhammad Ayyub dengan fasilitas penggantian suara.
  • Program menyajikan layanan-layanan berikut:
    • Tafsir: Ibnu Katsir, Jalalain, Thabari, Qurthubi, Muntakhab, Sa‘di, Zabad, Muyassar Sebagaimana pula menyediakan beberapa tafsir dalam bahasa Inggris, Prancis, Indonesia, Malaysia dan Turki.
    • Terjemah makna Alquran dalam bahasa:
      1. Inggris
      2. Indonesia
      3. Malaysia
      4. Turki
      5. Prancis
      6. Jerman
      7. Urdu
      8. Spanyol
    • Keterangan Kata Sulit
  • Program menyediakan fasilitas pencarian canggih dalam naskah Alquran dengan mengunakan teknik urai bahasa terhadap kata atau kalimat dengan beberapa kategori, sehingga memberikan kemampuan pencarian yang tinggi kepada pengguna biasa maupun ahli. Di samping itu, juga menyediakan fasilitas pencarian tematis, di mana Program telah menyediakan 14 tema pokok yang terbagi menjadi sub tema, kemudian sub sub tema melalui 6 tingkatan, hingga jumlah semua tema carian menjadi lebih dari 2000 tema. Semua jenis carian itu dapat dilakukan oleh pengguna dalam seluruh naskah Alquran atau dalam skop yang telah dia tentukan. Pencarian juga dapat dilakukan dalam tafsir dan terjemah.

  • Program menyediakan penayangan gambar dan suara terhadap makhraj huruf dan sifat-sifatnya serta cara pengucapannya yang benar untuk membantu pengguna dalam belajar membaca Alquran.

  • Program menerangkan hukum tajwid secara praktis, seperti; tingkatan qalqalah, jenis-jenis mad… dan seterusnya, serta dilengkapi dengan macam-macam contoh dari naskah Alquran dan suara pengucapan yang betul bagi setiap hukum.

  • Terakhir, Program memungkinkan pengguna untuk memilih salah satu bahasa pengantar dari bahasa-bahasa berikut: Arab , Indonesia , Malaysia, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Urdu, Spanyol
Beberapa petunjuk:
  • Untuk instal Program ke windows 2000 atau NT harus masuk melalui Administrator
  • Saat menginstal Program pada Windows 2000, harus yakin bahwa “Arabic Support” dari “Control Panel / Regional Options” telah dipilih.
  • Sebelum melakukan pencarian dengan berbagai bahasa dalam Program, terlebih dahulu harus diinstal papan tut untuk setiap bahasa. Caranya dengan menekan tombol kanan tikus pada ikon (En) atau (Ar) yang ada pada Taskbar di bagian bawah jendela utama, lalu pilih properties. Dari layar yang muncul setelah itu, bisa dilakukan penambahan papan tut untuk bahasa yang digunakan.
  • Naskah berisi bacaan Alquran dengan suara Syekh Huzaifi dan Muhammad Ayyub
  • Untuk mengganti suara pembaca, letakkan piringan yang berisi suara pembaca yang bersangkutan dalam pengaktif, lalu jalankan Program.
  • Untuk mengganti suara pembaca, pilih suara yang diminta pada menu Pilihan yang ada dalam Program.

  • Sebaiknya tidak mengganti suara saat bacaan berlangsung atau penayangan naskah Alquran.
  • Untuk mendengarkan bacaan seluruh Alquran tanpa berhenti (Bacaan Terus), Anda dapat:
    1. Menayangkan surah Al-Fatihah kemudian memilih tombol Bacaan Terus
    2. Menggunakan Remot atau Player Alquran
  • Penjelasan kata sulit tampak dalam bahasa Arab pada pengoperasian Program dengan bahasa pengantar Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Spanyol dan Urdu.
Hardware:
1. Pesawat Komputer Pribadi jenis PII (200 MHz) atau yang lebih tinggi

2. Memori 32 MB atau yang lebih tinggi

3. Pengaktif Piringan

4. Layar SVGA 800×600 + Mouse

5. Kartu suara + salon (pilihan)

6. Sedikitnya 75 MB ruang kosong dalam hard disk

7. Windows 98, Windows 2000 , Windows ME atau Windows XP

8. Microsoft Internet Explorer versi 6

Langkah-langkah penyiapan:
Masukkan piringan laser lalu tunggu beberapa saat, Program Penyiapan akan menginstal Program secara otomatis. Hal ini pada kali pertama saja. Untuk selanjutnya, dengan memasukkan piringan laser, Program akan aktif dengan sendirinya.

Atau ikuti langkah-langkah berikut:
  1. Masukkan Piringan Program ke dalam pengaktif piringan
  2. Pilih perintah “Run” dari menu “Start”
  3. Tulis perintah berikut dalam kotak isian:

    D:\setup

    jika pengaktif piringan berada pada drive D, jika tidak maka D bisa diganti dengan huruf yang bersangkutan

  4. Ikuti instruksi-instruksi yang ada di layar
Area Download
Download HolyQuran8_cd1CD 1 
Download HolyQuran8_cd2 CD 2
Catatan:
  • Untuk menjalankannya anda bisa memburn file dengan Nero ( 1 CD) atau silahkan Buka atau Mount dengan Daemon atau Virtual CD untuk downloadnya silahkan klik disini Daemon Tools BUY
  • Tidak jalan di Win7
  • BISA JUGA MENGGUNAKAN PROGRAM ALCOHOL 120% DOWNLOAD DISINI : Download alcohol 120% FREE  Size: 9.02 MB 

Sumber:http://bismillahku.blogspot.com/2011/07/download-holy-quran-80.html
READ MORE - Download Holy Quran 8.0

Allah Maha Penyayang (Ar Rahiim )


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Begitulah di  setiap surat Al Qur’an (kecuali surat At Taubah) dituliskan kalimat Basmallah.
Allah Maha Penyayang. Sebetulnya Allah benar-benar menyayangi/mencintai hambaNya. Beda sifat Ar Rahman(Maha Pengasih) dengan Ar Rahiim (Maha Penyayangh) adalah sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) meliputi seluruh makhluk Allah baik yang beriman mau pun yang kafir. Allah memberikan alam semesta ini seperti air, udara, bumi dan sebagainya ke semua makhluknya tanpa pandang bulu.
Ada pun sifat Ar Rahim (Maha Penyayang) itu adalah khusus bagi hamba-hamba Allah yang beriman. Hamba Allah yang saleh:
“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya” [HR Bukhari dan Muslim]

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az Zumar: 53)
Allah menurunkan 1% dari rahmatnya ke dunia. Dengan 1% rahmat saja seekor binatang pun mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya. Ada pun 99% lagi akan diberikan nanti di akhirat:
Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah menjadikan kerahmatan itu sebanyak seratus bagian, olehNya ditahanlah yang sembilan puluh sembilan dan diturunkanlah ke bumi yang satu bagian saja. Maka dari kerahmatan yang satu bagian itu sekalian makhluk dapat saling sayang-menyayangi, sehingga seekor binatangpun pasti mengangkat kakinya dari anaknya karena takut kalau akan mengenai -menginjak- anaknya itu.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki sebanyak seratus kerahmatan dan olehNya diturunkanlah satu bagian dari seratus kerahmatan itu untuk diberikan kepada golongan jin, manusia, binatang dan segala yang merayap. Maka dengan satu kerahmatan itu mereka dapat saling kasih mengasihi, dengannya pula dapat sayang menyayangi, bahkan dengannya pula binatang buas itu menaruh iba hati kepada anaknya. Allah mengakhirkan yang sembilan puluh sembilan kerahmatan itu yang dengannya Allah akan merahmati hamba-hambaNya pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)
Rahmat Allah mendahului murkaNya:
Allah Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): “RahmatKu mendahului murkaKu.” (HR. Muslim)
Kasih sayang Allah tergambar dari hadits di bawah:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ: فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَة

[رواه البخاري ومسلم في صحيحهما بهذه الحروف]

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Tuhannya, Tabaaraka wa ta’aala. Firman-Nya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan nilai kebaikan dan kejahatan, kemudian Dia menjelaskannya. Maka siapa berniat mengerjakan kebaikan tetapi tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat untuk berbuat kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai 10 sampai 700 kali kebaikan atau lebih banyak lagi. Jika ia berniat melakukan kejahatan, tetapi ia tidak mengerjakannya, Allah mencatatkan padanya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat melakukan kejahatan lalu dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kejahatan”. [HR. Bukhari dan Muslim dalam Kitab Shahihnya dengan redaksi yang sama]
Jika Allah tidak penyayang dan sekadar membalas 1 kebaikan dengan 1 pahala, berapa banyak manusia yang masuk surga?
Kasih sayang Allah terpancar dari Hadits Qudsi (Firman Allah yang tidak dicantumkan dalam Al Qur’an, tetapi di Hadits dengan redaksi dari Nabi):

عَنْ أَبِي ذَرٍّ اْلغِفَارِي, عَنْ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم. فِيمَا رَوَىَ عَنِ اللّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىَ أَنّهُ قَالَ: «يَا عِبَادِي إِنّي حَرّمْتُ الظّلْمَ عَلَىَ نَفْسِي. وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرّماً. فَلاَ تَظَالَمُوا.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ ضَالّ إِلاّ مَنْ هَدَيْتُهُ. فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلّكُمْ جَائِعٌ إِلاّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ. فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ.
يَا عِبَادِي كُلّكُمْ عَارٍ إِلاّ مَنْ كَسَوْتُهُ. فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللّيْلِ وَالنّهَارِ, وَأَنَا أَغْفِرُ الذّنُوبَ جَمِيعاً. فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرُ لَكُمْ.
يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ.
يَا عِبَادِي إِنّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ. ثُمّ أُوَفّيكُمْ إِيّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللّهَ. وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنّ إِلاّ نَفْسَهُ».

Dari Abu Dzarr al-Ghifary RA., dari Nabi SAW., dalam apa yang diriwayatkannya dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla bahwasanya Dia berfirman,
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya telah Aku haramkan atas diri-Ku perbuatan zhalim dan Aku jadikan ia diharamkan di antara kamu; maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.
Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk.
Wahai para hamba-Ku, setiap kalian itu adalah lapar kecuali orang yang telah Aku beri makan; maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian makan.
Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah telanjang kecuali orang yang telah Aku beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian pakaian.
Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di malam dan siang hari sedangkan Aku mengampuni semua dosa; maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.
Wahai para hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian bisa membayakan-Ku dan tidak akan mampu menyampaikan manfa’at kepada-Ku sehingga kalian bisa memberi manfa’at pada-Ku.
Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling takwa di antara kamu (mereka semua adalah ahli kebajikan dan takwa), maka hal itu (keta’atan yang diperbuat makhluk-red.,) tidaklah menambah sesuatu pun dari kekuasaan-Ku
Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling fajir (bejad) di antara kalian (mereka semua ahli maksiat dan bejad), maka hal itu (kemaksiatan yang mereka perbuat-red.,) tidaklah mengurangi sesuatu pun dari kekuasaan-Ku.
Wahai para hamba-Ku, andaikata generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian berada di bumi yang satu (satu lokasi), lalu meminta kepada-Ku, lantas Aku kabulkan permintaan masing-masing mereka, maka hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali sebagaimana jarum bila dimasukkan ke dalam lautan.
Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian kemudian Aku cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.”(HR.Muslim)
Dari Anas bin Malik ra dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Alloh SWT berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, ”hadits ini hasan shahih.”)
Agar disayang Allah, hendaknya kita menyayangi yang ada di muka bumi baik itu manusia, hewan, tumbuhan, dan alam ini:
Orang yang belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit. (HR. Bukhari)
Hadis riwayat Jarir bin Abdullah ra. dia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya. (Shahih Muslim No.4283)
Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Kamu tidak dapat masuk surga kecuali harus beriman dan tidak beriman kecuali harus saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu bila kamu lakukan niscaya kamu saling berkasih sayang? Sebarkan salam di antara kamu. (HR. Muslim)
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah -wahai Muhammad-, jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah saya, tentu engkau semua dicintai oleh Allah, serta Allah mengampuni dosamu semua dan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (Ali-Imran: 31)
Berikut doa Nabi Daud agar disayang Allah:
Rasulullah SAW bersabda: “Di antara doa Nabi Daud AS ialah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu dan aku memohon kepadaMu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cintaMu. Ya Allah, jadikanlah cintaMu lebih kucintai daripada diriku dan keluargaku serta air dingin.” Dan bila Rasulullah SAW mengingat Nabi Daud AS beliau menggelarinya sebaik-baik manusia dalam beribadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi 3412)
Allah begitu sayang kepada HambaNya sehingga meski kebaikannya hanya sebesar dzarrah/atom, Allah akan membalasnya selama orang itu beriman kepadaNa.
Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah saw. bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami di hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Ya! Kemudian beliau melanjutkan: Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang hari yang cerah, yang tidak ada awan sedikit pun? Apakah kalian terhalang melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa awan sedikit pun? Kaum muslimin menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Kalian tidak akan terhalang melihat Allah Taala pada hari kiamat, sebagaimana kalian tidak terhalang melihat salah satu dari matahari dan bulan. Ketika hari kiamat terjadi, ada penyeru yang mengumumkan: Setiap umat hendaklah mengikuti apa yang dahulu disembah. Maka tidak tersisa orang-orang yang dahulu menyembah selain Allah yakni berhala, kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka. Hingga yang tinggal hanya orang-orang yang menyembah Allah ada yang baik dan ada yang jahat serta sisa-sisa Ahli Kitab, maka dipanggillah orang-orang Yahudi. Mereka ditanya: Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Uzair anak Allah. Dikatakan: Kalian salah! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai sahabat atau anak. Lalu apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: Kami haus, ya Tuhan kami berilah kami minum. Lalu ditunjukkan pada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berjatuhan ke dalam neraka. Kemudian orang-orang Kristen dipanggil. Mereka ditanya: Apa yang dahulu kalian sembah? Mereka menjawab: Kami menyembah Isa Almasih anak Allah. Dikatakan kepada mereka: Kalian salah! Allah tidak menjadikan seorang pun sebagai sahabat atau anak. Apa yang kalian inginkan? Mereka menjawab: Kami haus ya Tuhan, berilah kami minum. Lalu ditunjukkan pada mereka: Kenapa kalian tidak datang ke sana? Mereka digiring ke neraka Jahanam, seolah-olah neraka itu fatamorgana yang saling menghancurkan. Mereka pun berguguran ke dalam neraka. Ketika yang tinggal hanya orang-orang yang dahulu menyembah Allah Taala (yang baik dan yang jahat), maka Allah datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui. Dia berfirman: Apa yang kalian tunggu? Setiap umat mengikuti apa yang dahulu disembah. Mereka mengucapkan: Ya Tuhan kami, di dunia kami memisahkan diri dari orang-orang yang sebenarnya sangat kami butuhkan (untuk membantu kehidupan di dunia) dan kami tidak mau berkawan dengan mereka (karena menyimpang dari jalan yang digariskan oleh agama). Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian! Mereka mengucap: Kami mohon perlindungan kepada Allah darimu. Kami tidak akan menyekutukan Allah dengan apapun (ini diucapkan dua atau tiga kali), sampai sebagian mereka hampir-hampir berubah (berbalik dari kebenaran, karena cobaan berat yang berlaku saat itu). Allah berfirman: Apakah antara kalian dan Dia ada tanda-tanda, sehingga dengan demikian kalian dapat mengenal-Nya? Mereka menjawab: Ya, ada. Lalu disingkapkanlah keadaan yang mengerikan itu. Setiap orang yang hendak bersujud kepada Allah dengan keinginan sendiri, pasti mendapat izin Allah. Sedangkan orang yang akan bersujud karena takut atau pamer, tentu Allah menjadikan punggungnya menyatu (sehingga tidak dapat sujud). Setiap kali hendak sujud, ia terjungkal pada tengkuknya. Kemudian mereka mengangkat kepala mereka, sementara itu Allah telah berganti rupa dalam bentuk yang mereka lihat pertama kali. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka menyahut: Engkau Tuhan kami. Kemudian suatu jembatan dibentangkan di atas neraka Jahanam dan syafaat diperbolehkan. Mereka berkata: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Ada yang bertanya: Ya Rasulullah, apakah jembatan itu? Rasulullah saw. bersabda: Tempat berpijak yang licin (menggelincirkan). Padanya terdapat besi berkait dan besi berduri. Di Najed ada tumbuhan berduri yang disebut Sakdan. Seperti itulah besi-besi berkaitnya. Orang-orang mukmin melewati jembatan tersebut ada yang secepat kejapan mata, ada yang seperti kilat, seperti angin, seperti burung, seperti kuda atau unta yang kencang larinya. Mereka terbagi menjadi tiga kelompok, golongan selamat sama sekali, golongan yang terkoyak-koyak tapi dapat bebas dan golongan yang terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Pada saat orang-orang mukmin telah terbebas dari neraka, maka demi Zat yang menguasai diriku, tidak ada orang yang sangat menaruh perhatian dalam meraih kebenaran, melebihi orang-orang mukmin yang mencari kebenaran kepada Allah demi kepentingan saudara-saudara mereka yang masih berada di neraka. Mereka berkata: Wahai Tuhan kami, mereka dahulu berpuasa bersama kami, salat dan beribadah haji. Lalu difirmankan kepada mereka: Keluarkanlah orang-orang yang kalian kenal. Maka wajah mereka diharamkan atas neraka. Mereka mengeluarkan banyak orang dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betisnya dan ada yang sudah sampai ke lututnya. Orang-orang mukmin itu berkata: Ya Tuhan kami, di dalam neraka tidak ada lagi seorang pun yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan meski hanya seberat dinar. Keluarkanlah. Kemudian mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Lalu mereka berkata: Ya Tuhan kami! Kami tidak tahu apakah di neraka masih ada orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di hatinya ada kebaikan maski hanya seberat setengah dinar, keluarkanlah. Mereka dapat mengeluarkan lagi banyak orang. Setelah itu mereka berkata: Ya Tuhan kami! Kami tidak tahu, apakah di sana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: Kembalilah (lihatlah kembali)! Barang siapa yang kalian temukan di dalam hatinya terdapat kebaikan meski hanya seberat atom, keluarkanlah. Lagi-lagi mereka dapat mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata: Ya Tuhan kami. Kami tidak tahu apakah di sana masih ada pemilik kebaikan. Abu Said Al-Khudri berkata: Jika kalian tidak mempercayaiku mengenai hadis ini, maka bacalah firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar atom. Dan jika ada kebaikan sebesar atom, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Allah Taala berfirman: Para malaikat telah memohon syafaat, para nabi telah memohon syafaat dan orang-orang mukmin juga telah memohon syafaat. Yang tinggal hanyalah Zat yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang. Lalu Allah mengambil dari neraka dan mengeluarkan dari sana sekelompok orang yang sama sekali tidak pernah beramal baik. (Saat itu) mereka telah menjadi arang hitam. Mereka dilempar ke sebuah sungai dekat mulut surga, yang disebut Sungai Kehidupan. Kemudian mereka keluar seperti tumbuhan kecil keluar dari lumpur banjir. Bukankah kalian sering melihat tumbuhan kecil di sela-sela batu atau pohon, di mana bagian yang terkena sinar matahari akan berwarna sedikit kuning dan hijau, sedangkan yang berada di keteduhan menjadi putih? Para sahabat menyela: Seolah-olah baginda dahulu pernah menggembala di dusun. Rasulullah saw. meneruskan: Lalu mereka keluar bagaikan mutiara. Di leher mereka ada kalung, sehingga para ahli surga dapat mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga, tanpa amal yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang mereka lakukan. Kemudian Allah berfirman: Masuklah kalian ke dalam surga. Apapun yang kalian lihat, itu adalah untuk kalian. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, Engkau telah memberi kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun di antara orang-orang di seluruh alam. Allah berfirman: Di sisiku ada pemberian untuk kalian yang lebih baik daripada pemberian ini. Mereka berkata: Ya Tuhan kami, apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini? Allah berfirman: Rida-Ku, sehingga Aku tidak akan murka kepada kalian sesudah itu, selamanya. (Shahih Muslim No.269)
Agar disayang Allah, hendaknya kita senantiasa saling sayang-menyayangi. Seorang Muslim tidak akan mencari atau berburuk sangka kepada sesama Muslim dengan dalih apa pun. Tidak sepantasnya seorang Muslim berlaku keji hanya karena beda paham/aliran:
Allah Ta’ala berfirman pula: “Hai sekalian orang yang beriman, siapa yang bermurtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang dicintai olehNya dan merekapun mencintaiNya. Mereka itu bersikap lemah lembut kepada kaum mu’minin dan bersikap keras terhadap kaum kafirin. Mereka berjihad fisabilillah dan tidak takut celaan orang yang suka mencela. Demikian itulah keutamaan Allah, dikurniakan olehNya kepada siapa yang dikehendakiNya dan Allah adalah Maha Luas KaruniaNya serta Maha Mengetahui.” (al-Maidah: 54)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman -dalam hadits Qudsi: “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia akan Kuperangi -Kumusuhi. Tidaklah seorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Tidaklah seorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan melakukan hal-hal yang sunnah, sehingga akhirnya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang ia pakai untuk mendengarkan, Akulah matanya yang ia pakai untuk melihat, Akulah tangannya yang ia pakai untuk mengambil dan Aku pulalah kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Jikalau ia meminta sesuatu padaKu, pasti Kuberi dan jikalau ia mohon perlindungan padaKu, pasti Kulindungi.” (Riwayat Imam Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril untuk memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu -hai Jibril- si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang kepada seluruh penghuni langit memberitahukan bahwa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua -hai penghuni-penghuni langit- si Fulan itu. Para penghuni langitpun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah penerimaan baginya -yang dimaksudkan ialah kecintaan padanya- di kalangan penghuni bumi.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai seorang hamba, lalu memanggil Jibril kemudian berfirman: “Sesungguhnya Saya mencintai si Fulan, maka cintailah ia.” Jibril lalu mencintainya. Seterusnya Jibril memanggil pada seluruh penghuni langit lalu berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu.” Orang itupun lalu dicintai oleh para penghuni langit. Selanjutnya diletakkanlah penerimaan -kecintaan- itu baginya dalam hati para penghuni bumi. Dan jikalau Allah membenci seorang hamba, maka dipanggillah Jibril lalu berfirman: “Sesungguhnya Saya membenci si Fulan itu, maka bencilah engkau padanya.” Jibril lalu membencinya, kemudian ia memanggil semua penghuni langit sambil berkata: “Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah engkau semua padanya.” Selanjutnya diletakkanlah rasa kebencian itu dalam hati para penghuni bumi.”
Hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada Allah:
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, m aka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

Referensi:

READ MORE - Allah Maha Penyayang (Ar Rahiim )

Informasi Mengenai Peristiwa Masa Depan dalam Al Qur'an


Sisi keajaiban lain dari Al Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al Qur'an, 48:27)
Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah.
Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur'an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu. Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, yang akan diulas lebih dalam dalam halaman-halaman berikutnya, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab "titik terendah" disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.

READ MORE - Informasi Mengenai Peristiwa Masa Depan dalam Al Qur'an

Minggu, Oktober 16

Doa-doa Nabi Nuh as




 alquran Nabi Nuh as adalah salah seorang nabi Allah yang memiliki umur panjang sehingga umurnya menjadi perumpamaan.
Nabi Nuh as menyeru kaumnya untuk menyembah Allah swt dan makrifat, dan melarang mereka dari menyembah berhala dan kebodohan. Umat nabi Nuh as yang terbiasa dengan keyakinan-keyakinan nenek moyang mereka dan jauh dari berfikir dan merenung, mengancam nabi Nuh as: “Mereka berkata:
Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.(QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 116.)

Nabi Nuh as menengadahkan tangan dan berdoa:

رَبِّ إِنَّ قَوْمى‏ كَذَّبُونِ * فافْتَحْ بَيْنى‏ وَبَيْنَهُمْ فَتْحاً وَ نَجِّنى‏ وَ مَنْ مَعِىَ مِنَ المُؤمِنينَ
“Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 117 – 118.)
Allah swt dalam al-Qur’an Karim berfirman: “Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.(QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 119 – 120.)
2) Di dalam al-Qur’an terdapat sebuah surat bernama surat Nuh dan seluruh isi surat ini berhubungan dengan kisah nabi Nuh as.
Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih. Nuh berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui. (QS. Nuh [71]: 1 – 4.)
Seruan dan tabligh ini tidak membangunkan kaum beliau as dan dengan alasan ini nabi Nuh as menyatakan kepada Allah swt sambil berkata: “Nuh berkata: Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.(QS. Nuh [71]: 5 – 12.)
Nabi Nuh as kemudian menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt di alam penciptaan kepada mereka. Namun tetap saja mereka tidak sadar dan saling memesakan kepada sesama mereka supaya tidak berpaling dari berhala-berhala mereka. Mereka terjerumus ke dalam dosa-dosa dan pada akhirnya mereka menjadi penghuni neraka.
Pada kesempatan ini nabi Nuh as mengangkat tangan berdoa dan menyatakan kepada Allah swt:
رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأَرْضِ مِنَ الكافِرِينَ دَيّاراً * إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلّا فاجِراً كَفّاراً * رَبِّ اغْفِرْ لِى‏ وَلِوالِدَىَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمناً وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِناتِ وَلا تَزِدِ الظّالِمِينَ إِلّا تَباراً
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan(QS. Nuh [71]: 26 – 28.)
3) Allah swt dalam surat Al-Qamar berfirman: “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: Dia seorang gila (kerasukan jin) dan dia sudah pernah diberi ancaman.(QS. Al-Qamar [54]: 9.)
Nabi Nuh as pun menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah swt:
أَنّى‏ مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ
“Sesungguhnya aku ini adalah orang yang dikalahkan (dalam memberikan petunjuk kepada umat), oleh sebab itu tolonglah (aku)(QS. Al-Qamar [54]: 10).
4) Dalam surat Al-Mukminun ditegaskan:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?(QS. Al-Mukminun [23]: 23)
Dalam kondisi ini nabi Nuh as mengangkat tangan berdoa:
رَبِّ انْصُرْنى بِما كَذَّبُونِ
“Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.
(QS. Al-Mukminun [23]: 26. Susunan kalimat ini terdapat dalam surat ini ayat 39 melalui lidah suci nabi lain dan nama nabi tersebut tidak disebutkan secara jelas. Sebagian meyakini nabi tersebut adalah nabi kaum ‘Ad yaitu nabi Hud as, dan yang lain menyatakan nabi kaum Tsamud yaitu nabi Saleh as.)
Allah swt berfirman: “Lalu Kami wahyukan kepadanya: Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tannur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang lalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah:
اَلْحَمْدُ للَّهِ‏ِ الَّذى نَجَّينا مِنَ الْقَوْمِ الظالمِينَ * وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنى مُنْزَلاً مُبارَكاً وَأنْتَ خَيْرُ المُنْزِلينَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang lalim. Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat(QS. Al-Mukminun [23]: 28 – 29)
Nabi besar Islam Muhammad saw bersabda kepada Imam Ali as: “Wahai Ali! Setiapkali engkau turun di suatu tempat katakan:
اللّهمّ أنزِلني مُنْزَلاً مبارَكاً وأنت خير المنزِلين
karena kebaikan tempat tersebut akan menjadi bagianmu dan keburukannya akan menjauh darimu(Tafsir Ash-Shafi, jilid 3, hal. 399.)
Dalam hadis “400” yang Imam Ali as menjelaskan 400 ucapan pendek dalam sopan santun kehidupan dan penghambaan kepada para sahabat beliau disebutkan:(Al-Khishal, hal. 634) “Setiapkali kalian turun di suatu tempat katakanlah:
اَللَّهُمَّ أَنْزِلْنَا مُنْزَلاً مُبَارَكاً وَ أَنْتَ خَيْرُ المُنْزِلِينَ
5) Nabi Nuh as selama 950 tahun mentablighkan penyembahan kepada Yang Esa, kesucian dan kebenaran di tengah-tengah umat beliau, akan tetapi 10 abad tabligh dan dakwah tidak menyadarkan kaum yang terlelap dalam kebodohan dan membangunkan mereka, dan dari semua benih tauhid dan pengesaan Tuhan tidak bersinggah dan mekar selain sangat sedikit di hati yang lebih keras dari batu. Disamping itu, mereka mengolok-olok nabi Ilahi as dan menuduhkan tuduhan-tuduhan yang mereka sendiri layak menerimanya serta menganggap kaum Mukminin yang bersama beliau as sebagai manusia-manusia yang rendah…
Dengan latar belakang kemaksiatan dan kejahatan seperti inilah turun hujan yang sangat lebat dari langit dengan perintah Allah swt dan air bersumber dari bawah tanah serta seluruh tempat dilanda banjir dan topan.
Nabi Nuh as yang telah siap menghadapi persyaratan-persyaratan semacam ini dari sebelumnya berkata kepada kaum Mukminin dan orang-orang yang bersamanya supaya naik ke atas bahtera yang beliau buat dengan tangan beliau sendiri. Nabi Nuh ketika menaiki bahtera berkata:
بِسْمِ اللَّهِ مَجْريها وَمُرْسيها إِنَّ رَبّى لَغَفُورٌ رَحيم
“Dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS. Hud [11]: 41)
 Ketika itu air dari langit dan bumi bertemu dan memenuhi semua tempat dan menelan orang-orang yang berbuat keji pada hari itu. Sementara itu nabi Nuh as dan orang-orang yang bersama beliau menaiki bahtera keselamatan dan bergerak di atas permukaan air. Ketika air memenuhi semua tempat dan menyeret seluruh orang yang tersesat dan keras kepala kepada kematian, dikeluarkan perintah Ilahi untuk penghentian hujan dan gumpalan air dari dalam bumi dan bahtera nabi Nuh as berlandas dengan tenang di atas gunung “Judiy”. Di tengah-tengah kejadian tersebut, ketika nabi Nuh as melihat puteranya yang tidak berada pada jalan yang benar berada di tengah orang-orang yang tenggelam mengangkat tangan sambil berdoa:
رَبِّ إِنَّ ابْنى‏ مِنْ أَهْلى‏ وَإِنَّ وَعْدَكَ الحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحاكِمينَ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku (dan Engkau telah berjanji menyelamatkankan keluargaku), dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya(QS. Hud [11]: 45)
Allah swt berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan(QS. Hud [11]: 46)

Nabi Nuh as sadar dan berkata:

رَبِّ إِنّى‏ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْئَلَكَ ما لَيْسَ لى بِهِ عِلْمٌ، وَإِنْ لا تَغْفِرْ لى وَتَرْحَمْنى أَكُنْ مِنَ الْخاسِرينَ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi(QS. Hud [11]: 47.)

Artikel:http://www.alquran-indonesia.com
READ MORE - Doa-doa Nabi Nuh as
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

DEPOSITO SEDEKAH VS UTANG - UST YUSUF MANSYUR

Kebiasaan Hutang dimasyarakat kita dewasa ini mungkin sudah menjadi kebiasaan....bahkan untuk memiliki sesuatu kita terpaksa untuk hutang..namun pernahkah kita mencoba jalan lain dengan berniaga dengan Allah...tahukah kalian semua apa itu pernigaan di jalan Allah...perniagaan di jalan Allah adalah lebih suka membelanjakan hartanya untuk kepentingan umat dan islam diatas kepentingan pribadi....seperti halnya sedekah.... nah dalam menyikapi sedekah....berikut video mengenai hutang ini...judulnya deposit sedekah vs hutang...di persembahkan oleh ustad yusuf mansur.....nah selamat menyaksikan
bagian 1
bagian 2
bagian 3
bagian 4
bagian 5
bagian 6
bagian 7
bagian 8
bagian 9